Tanggal 18-20 November 2009 telah dilakukan Ujian Nasional Program Paket A secara online. Warga belajar Komunitas SekolahRumah Pelangi, ananda M Aldy Bagastian, di Sarjah, Dubai, Uni Emirat Arab; warga negara Indonesia, mengikuti UN teresebut pada hari dan waktu yang sama dengan saudara-saudara sebangsanya di tanah air.
Penyelenggaraan UN Paket A online sebelumnya telah diberitahukan kepada Dirjen PNFI dan Direktur Pendidikan Kesetaraan, secara lisan dan tertulis; juga kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Bidang PNFI Kota Tangerang Selatan. Kabid PNFI Bp. Drs. H. Didi Sutisna, M.Si. adalah Ketua Panitia Penyelenggara UN Program Paket A tersebut.
Proses Belajar M. Aldy Bagastian
Muhammad Aldy Bagastian lahir di Sikur, Lombok Timur pada tanggal 5 Oktober 1997, anak dari keluarga ibu Sutrisni Wahidah dan bp. Azzudin Bagastian. Aldy mempunyai 2 adik yang kembar, yaitu Kinanti Syabitha Fitri dan Alfina Syabitha Fitri yang lahir pada 6 November 2002, mereka juga menempuh jalur pendidikan informal dengan bersekolahrumah. Pak Azzudin bekerja di suatu hotel di Dubai UEA sejak tahun 2007. Setelah setahun di Uni Emirat Arab, pada tahun 2008 istri dan anak-anak dari Lombok Timur berangkat menyusul ke Dubai.
Sampai kelas 4 SD Aldy menempuh pendidikan formal di SDN di Bali dan Lombok, bersekolahrumah sejak tahun 2008 ketika tinggal di Dubai, bergabung dengan Komunitas Sekolah Pelangi di Pamulang, Tangerang Selatan. Belajar dengan menggunakan kurikulum nasional dengan materi belajar dari Buku Sekolah Elektronik yang dikeluargan Departemen Pendidikan Nasional RI. Pengajaran setiap hari diperoleh langsung dari orangtua yang terus berkomunikasi melalui internet dengan Komunitas Sekolah Pelangi.
Bagaimana hasil ujiannya? Nanti kita lihat. Yang jelas hasil try out Aldy menunjukan dia anak cerdas dan mampu mencapai nilai di atas standar kelulusan UN.
Proses Ujian Online
Perintisan ujian online telah dimulai sejak Aldy bergabung di Komunitas SekolahRumah Pelangi, masakan dia harus pulang ke tanah air untuk ikut ujian kesetaraan; mestinya negara bisa mempermudah, apalagi teknologi sudah menunjang. Jadi HS Pelangi/AsahPena mengajukan permohonan kepada Dirjen PNFI, yang walaupun belum dijawab secara tertulis, tetapi secara lisan mendukung. Juga kami menyurati Konsulat Jenderal RI di Dubai, mereka siap mendukung untuk turut mengawasi. Terakhir dan terpenting, kami minta ijin dari Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan up. Kabid PNFI bpk. Drs. H Didi Sutisna, M.Si. Semua mendukung, maka masuklah Aldy dalam DNT peserta UN Kota Tangerang Selatan.
Ujian dilaksanakan pada tanggal 18-20 November 2009 di SDN IV Ciputat, Tangerang Selatan. Nomor ujian Aldy, sama seperti yang lain, tertera di meja dalam ruang ujian. Ujian dimulai jam 13.00 WIB waktu Indonesia bagian barat, atau sama dengan jam 10.00 waktu Dubai. Pada waktu yang sama, Aldy didampingi orangtua dan petugas konsulat siap dengan baju putih celana hitam, di depan pc yang konek ke internet dan dilengkapi dengan scaner dan printer.
Ketika Panitia di Ruang Ujian membuka soal ujian, soal dan LJK segera discan dan dikirim ke Dubai via email. Di Dubai, soal dan ljk segera diprint. Pada waktu yang ditentukan, bersamaan dengan sisa-siswa di Kota Tangerang Selatan, Aldy juga mengisi LJK dan mulai mengerjakan soal. Aldy diawasi langsung via webcam, dan dengan menggunakan headset, komunikasi dilakukan secara lisan dan tertulis menggunakan Yahoo Mesenger. Setelah jawaban diselesaikan, LJK di Dubai discan, lalu diemail ke Kota Tangsel. Di Tangsel, jawaban tersebut diprint selanjutnya ditransfer ke LJK asli oleh Panitia Ujian. Demikian dilakukan untuk setiap soal.
Masalah terjadi ketika hari terakhir, Jumat 20 November 2010, ujian hanya satu mata pelajaran yaitu matematika, dan ujian dilakukan mulai jam 14.00, atau jam 11.00 waktu Dubai. Hari jumat adalah hari libur di UEA, setelah soal dikirim, kemudian internet di Dubai off; mungkin jam sholat jumatan. Hasil scan lLembar jawaban tidak bisa dikirim dari Dubai, akhirnya diputuskan menggunakan SMS. Jawaban dikirim melalui sms.
Rencana Yang Akan Datang
UN Pendidikan Kesetaraan diharapkan dapat mengglobal dan menjadi bagian dari pendidikan bangsa Indonesia yang merantau ke luar negeri, sama seperti Cambridge International Examination (CIE) yang sangat terkenal dan digunakan di banyak negara. Versi UNPK mestinya lebih sederhana, cepat dan tidak seketat CIE. Bisa dilaksanakan di rumah saja, tidak di gedung khusus dengan kepanitiaan khusus; utamanya adalah azas kejujuran dan kerahasiaan. Ke depan diupayakan, pengerjaan langsung secara online di komputer, dengan menggunakan ID dan account khusus untuk setiap peserta ujian; dan nilai dapat langsung dilihat setelah ujian dilaksanakan.
0 komentar:
Poskan Komentar